5 Pemain Muslim yang Patut Disimak di Piala Dunia FIFA 2026

Tahiru Nasuru··11 mnt baca
5 Pemain Muslim yang Patut Disimak di Piala Dunia FIFA 2026

Umat di Bawah Sorotan Lampu Stadion

Piala Dunia FIFA 2026 telah tiba. Bagi Muslim yang menyaksikan dari Casablanca hingga Karachi, dari Stockholm sampai Surabaya, ada arus kebanggaan tersendiri di balik kemegahan ini, sebab di antara skuad-skuad elite tersebut tersebar putra-putra umat. Mereka bersujud. Mereka berpuasa. Sebagian dari mereka berbisik Bismillah sebelum menginjak rumput lapangan, dan bagi banyak di antara mereka iman bukan sekadar catatan kaki pribadi dalam sepak bola mereka, melainkan penopang utamanya.

Berikut ini adalah sorotan atas lima di antaranya, disertai sepatah kata tentang bagaimana Islam menyertai seorang mukmin ke mana pun perjalanannya membawanya.

Piala Dunia yang Tak Tertandingi: Penjelasan Turnamen 2026

Edisi ke-23 Piala Dunia FIFA adalah yang terbesar dalam sejarah. Untuk pertama kalinya, tiga negara menjadi tuan rumah bersama: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, yang tersebar di enam belas kota. Jumlah pesertanya juga bertambah dari 32 tim menjadi 48, yang berarti 104 pertandingan besar digelar dalam 39 hari.

Turnamen ini dimulai pada 11 June, 2026, dengan tuan rumah Meksiko menghadapi Afrika Selatan di Estadio Azteca yang bersejarah. Final akan digelar pada 19 July di MetLife Stadium, East Rutherford, New Jersey, yang untuk kesempatan ini berganti nama menjadi "New York New Jersey Stadium". Lebih banyak tim, lebih banyak negara, lebih banyak bahasa di tribun. Inilah turnamen yang paling mencerminkan keragaman dunia yang pernah digelar ajang ini, dan umat terjalin di dalamnya.

Iman dan Sepak Bola: Mengapa Ini Penting bagi Umat

Ada sebuah ajaran yang dicintai di seluruh umat, bahwa Allah itu indah dan mencintai keindahan. Keindahan itu bisa ditemukan dalam umpan yang terukur sempurna, dalam lengkung tendangan bebas yang meliuk, dalam tubuh yang dilatih hingga batas maksimalnya. Ketika seorang atlet beriman menunjuk ke langit, tersungkur dalam sujud, atau dengan tenang menolak merayakan gol demi menjaga adab, momen itu memancarkan sesuatu dari ihsan: melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya, dan dengan kesadaran akan Allah.

Representasi paling bermakna bagi generasi muda. Seorang pemenang Ballon d'Or yang membiayai pembangunan masjid. Seorang remaja yang berpuasa Ramadan saat menjalankan tugas internasional. Seorang kapten yang telah menunaikan Umrah lebih dari sekali. Gambaran-gambaran ini mengajarkan pelajaran yang hening: seorang mukmin tidak harus memilih antara agamanya dan mimpinya.

Ousmane Dembélé (Prancis): Sang Mukmin Peraih Ballon d'Or

Musim 2025 adalah milik Ousmane Dembélé. Lahir pada 15 May, 1997, di Vernon, Normandy, pemain sayap yang piawai dengan kedua kaki ini menghabiskan bertahun-tahun di Barcelona sambil bergulat dengan tubuhnya sendiri, cedera demi cedera, sebelum kepindahannya ke Paris Saint-Germain pada 2023 akhirnya benar-benar membebaskannya.

Lalu datanglah angka-angka itu. Pada 2024–25 ia mencetak 33 gol dan menyumbang 15 asis dalam 49 penampilan, dan PSG meraih treble. Ia memenangkan Ballon d'Or 2025, menjadi pemain PSG pertama yang pernah melakukannya. Pada December ia menambah penghargaan The Best FIFA Men's Player. PSG mempertahankan mahkota Eropa mereka pada 2026, dan Dembélé masih menjadi sosok utamanya.

Ia seorang Muslim yang taat. Ayahnya berasal dari Mali, ibunya berdarah Senegal-Mauritania, dan imannya merupakan bagian dari rumah tempat ia dibesarkan. Setelah Prancis menjuarai Piala Dunia 2018, banyak laporan menyebut bahwa ia menggunakan pendapatan turnamen itu untuk pembangunan sebuah masjid baru di kampung halaman ibunya di Diaguily, Mauritania selatan. Belakangan ia juga menyumbangkan €100,000 kepada Wally Diantang, kampung leluhur dari garis ibunya di wilayah Gorgol. Ia menjalankan Ramadan. Ia bersyukur. Semua itu ia lakukan tanpa banyak keramaian, tidak sedemonstratif sebagian rekan seangkatannya, tetapi tulus.

Prancis termasuk di antara tim unggulan. Mereka berada di Grup I dan memulai laga melawan Senegal pada 16 June di MetLife Stadium. Didier Deschamps, yang menjalani turnamen besar ketujuh sekaligus terakhirnya sebagai pelatih, mengatakan bahwa Dembélé dalam performa terbaiknya adalah senjata sungguhan bagi Les Bleus. Prancis mengangkat trofi pada 2018 dan kalah di final pada 2022. Dengan performa Dembélé seperti ini, bintang ketiga bukanlah angan-angan.

Lamine Yamal (Spanyol): Keajaiban Remaja

Lamine Yamal datang lebih cepat dari yang diperkirakan. Lahir pada 13 July, 2007, ia menjadi pemain termuda yang pernah menjuarai trofi internasional besar ketika Spanyol mengangkat UEFA Euro 2024 sehari setelah ulang tahunnya yang ke-17, dan pada 2025 ia finis sebagai runner-up Ballon d'Or, hanya di belakang Dembélé.

Musimnya di level klub sungguh sensasional. Ia memimpin Barcelona menjuarai La Liga dengan 16 gol dan 11 asis, sekaligus menjadi pencatat asis terbanyak di divisi itu. Robekan hamstring saat melawan Celta Vigo pada April sempat membuat musim panasnya diragukan, tetapi ia pulih tepat waktu. Spanyol memulai turnamen melawan Tanjung Verde pada 15 June di Atlanta dan ditahan imbang 0-0. Yamal, yang dikembalikan secara bertahap dari bangku cadangan, masuk pada menit ke-71 dan tetap menutup laga dengan jumlah dribel terbanyak di lapangan, lima kali, menurut data Opta yang dikutip Al Jazeera. Tergabung bersama Tanjung Verde, Arab Saudi, dan Uruguay, Spanyol tampak sebagai penantang serius untuk gelar dunia kedua setelah kemenangan mereka pada 2010.

Imannya tampak jelas di ruang publik. Ia berdarah Maroko dan Guinea Khatulistiwa; ayahnya, Mounir Nasraoui, berasal dari Larache di Maroko, ibunya, Sheila Ebana, dari Bata di Guinea Khatulistiwa, dan ia sebagian dibesarkan oleh nenek dari garis ayahnya yang berkebangsaan Maroko, yang menumbuhkan Islam dalam dirinya. Pada Maret 2025, menurut berbagai laporan luas, ia menjadi pemain pertama dalam sejarah tim nasional Spanyol yang tetap berpuasa Ramadan saat menjalankan tugas internasional. Pelatih Luis de la Fuente menyatakannya secara terbuka, menjelaskan bahwa Yamal mengikuti tuntunan agamanya sebagaimana ia lakukan di klubnya, bahwa staf medis dan nutrisi telah memberinya panduan makan dan minum, dan bahwa tim menaruh penghormatan setinggi-tingginya kepada semua keyakinan. Ia kerap terlihat memanjatkan doa singkat sebelum sepak mula, dan ia pernah berbicara tentang ketenangan yang ia rasakan ketika terhubung dengan masjid. Bagi jutaan Muslim muda, pesannya sederhana: panggung terbesar dalam olahraga ini memberi ruang bagi iman yang dikenakan secara terbuka.

Arda Güler (Turki): Tawakal yang Terpampang

Ketika Arda Güler mencetak gol, gerakannya sudah akrab. Tangan di dada, jari menunjuk ke langit. Ia menjelaskannya sebagai tawakkul, tawakal kepada Allah, dengan mengatakan kepada KAFA Sports pada April 2024 bahwa hal itu berlandaskan kepercayaan, dan bahwa ia meyakini segala sesuatu datang dari Allah. Di antara sahabat terdekatnya di Real Madrid, ia menyebut sesama Muslim Antonio Rüdiger dan Brahim Díaz.

Lahir pada 25 February, 2005, di Altındağ, Ankara, Güler meniti jalan melalui Fenerbahçe sebelum bergabung dengan Real Madrid pada 2023. Dua musim yang tenang pun berlalu. Lalu Xabi Alonso mengambil alih pada 2025 dan segalanya berubah baginya. Dimainkan sebagai poros kreatif di area kanan tengah, ia benar-benar meledak pada 2025–26 dan menjadi sosok sentral dalam pembangunan ulang Madrid. Ada sebuah kisah yang beredar luas, yang lebih banyak bertumpu pada media sosial ketimbang sumber primer mana pun, bahwa saat berusia tujuh tahun ia memenangkan medali di sebuah sekolah tahfiz Al-Qur'an.

Bagi Turki, ini adalah kepulangan, Piala Dunia pertama mereka sejak 2002. Mereka meraihnya dengan jalan yang tidak mudah. Mereka finis di belakang Spanyol sebagai peringkat kedua grup, menyingkirkan Rumania di semifinal playoff dengan Güler menyumbang assist, lalu memeras kemenangan tegang 1-0 di kandang Kosovo untuk memastikan kelolosan. Tergabung di Grup D bersama Amerika Serikat, Australia, dan Paraguay, Türkiye berbahaya saat menyerang tetapi rapuh di lini belakang. Kaki kiri Güler, umpan bola matinya, dan visi permainannya menjadikannya sosok yang paling mungkin menyinari perjalanan mereka.

Achraf Hakimi (Maroko): Kapten Impian Sebuah Benua

Pada 2022, Maroko menjadi negara Afrika dan Arab pertama yang mencapai semifinal Piala Dunia. Kapten mereka adalah Achraf Hakimi. Empat tahun kemudian, ia kembali pada puncak kemampuannya.

Ia lahir pada 4 November 1998 di Madrid, dari orang tua imigran Maroko. Ayahnya berjualan di jalanan. Ibunya membersihkan rumah-rumah. Hari ini banyak yang menganggapnya sebagai bek kanan terbaik di dunia, dan musim 2025–26 membuat anggapan itu kian sulit dibantah. Ia menjuarai Liga Champions bersama PSG dua kali berturut-turut. Ia mencetak gol pembuka pada final 2025 melawan Inter Milan. Dalam sejumlah ukuran, ia melampaui Samuel Eto'o dan Yaya Touré untuk menjadi pesepak bola Afrika paling bergelimang prestasi sepanjang masa. Ia finis di peringkat keenam Ballon d'Or 2025, di atas rekan setimnya Kylian Mbappé, yang menurut Al Jazeera merupakan posisi tertinggi yang pernah diraih pemain Maroko. Pada November itu, CAF menobatkannya sebagai Pemain Putra Terbaik 2025 di Rabat. Ia menjadi pemain bertahan pertama yang memenanginya dalam 52 tahun dan pemain Maroko pertama sejak Mustapha Hadji pada 1998.

Ia taat beragama. Ia pernah berbicara tentang bagaimana orang tuanya mengajarkan budaya Muslim dan salat kepadanya sejak kecil, dan ia telah menunaikan Umrah di Makkah lebih dari sekali. Budayanya, katanya, adalah Maroko: keluarganya berbicara dalam bahasa Maroko di rumah, makan makanan Maroko di rumah, dan ia dengan terus terang menyebut dirinya seorang Muslim yang taat menjalankan ajaran. Kerendahan hati, kedermawanan, pengabdian yang tampak nyata: semua itu menjadikannya teladan bagi pemuda Muslim jauh melampaui batas-batas Maroko.

Singa Atlas tergabung di Grup C bersama Brasil, Skotlandia, dan Haiti, di bawah pelatih baru Mohamed Ouahbi, dan mereka lolos tanpa cela, delapan kemenangan dari delapan laga. Dalam laga pembuka, mereka menahan imbang Brasil, juara lima kali, 1-1, dan bisa dibilang justru tampil lebih baik, dengan Hakimi merobek sisi kanan lapangan. Cungkilan halus Ismael Saibari membawa mereka unggul sebelum Vinícius Júnior menyamakan kedudukan. Mereka yakin bisa melangkah lebih jauh daripada 2022. Sebagian besar umat pun meyakininya bersama mereka.

Yasin Ayari (Swedia): Sujud yang Terdengar ke Seluruh Dunia

Tujuh menit memasuki laga pembuka Swedia melawan Tunisia, seorang gelandang berusia 22 tahun bernama Yasin Ayari melepaskan tembakan keras dari luar kotak penalti ke sudut atas gawang. Ia tidak merayakannya. Ia mengangkat kedua tangannya nyaris seperti meminta maaf, lalu menundukkan diri dalam sujud di atas rumput.

Alasannya bersifat pribadi. Lahir di Solna, Swedia, pada 6 Oktober 2003 dari ayah Tunisia dan ibu Maroko, Ayari sebenarnya bisa bermain untuk Swedia, Tunisia, atau Maroko. Ia memilih negara tempat kelahirannya, tetapi demi menghormati tanah air ayahnya ia tidak mau merayakan gol ke gawang Tunisia. Ayahnya, Azzouz Ayari, menjelaskan hal itu kepada surat kabar Swedia Aftonbladet, dengan mengatakan bahwa ia ingin putranya bermain untuk Swedia dan membalas kebaikan negara yang telah menjaganya. Baru setelah gol keduanya, sebuah penyelesaian keras pada menit ke-95 yang menutup kemenangan 5-1 di Monterrey, Ayari membiarkan dirinya melakukan selebrasi khasnya dengan meluncur di atas lutut.

Ia bermain di tingkat klub untuk Brighton & Hove Albion di Liga Primer. Swedia menempuh jalur yang canggung menuju putaran final, lolos melalui playoff di bawah Graham Potter dengan kemenangan atas Polandia yang membawa mereka kembali ke Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 2018. Dua gol pada debutnya mengumumkan kehadirannya kepada siapa pun yang belum memperhatikan. Sujud itu, dilakukan di hadapan dunia yang menyaksikan, menyatakan dari mana seorang mukmin meyakini keberhasilannya berasal.

Benang yang Mengikat: Perjalanan, Ibadah Haji, dan Umat Global

Lihatlah apa yang menghubungkan kelima sosok ini. Migrasi. Warisan. Pergerakan melintasi perbatasan. Dembélé berakar di Mali dan Mauritania, Yamal di Maroko dan Guinea Khatulistiwa, Hakimi lahir di Madrid dari orang tua Maroko, Ayari di Swedia dengan darah Tunisia dan Maroko. Umat Islam sejak dahulu adalah komunitas yang bepergian, yang menyeberangi samudra namun tetap menghadap satu kiblat.

Ada gema samar di sini dari apa yang diwujudkan Haji dan Umrah dalam makna yang suci: manusia dari setiap bahasa dan warna kulit berkumpul di satu tempat, dipersatukan oleh sesuatu yang lebih besar daripada diri mereka sendiri. Seorang mukmin bepergian untuk bekerja, untuk keluarga, untuk sepak bola, untuk ibadah haji, dan agama itu ikut bepergian bersamanya.

Perjalanan bisa mengacaukan rutinitas ibadah kita. Zona waktu yang baru mengaburkan waktu-waktu salat. Kota-kota yang asing menyembunyikan arah kiblat dan tempat makan halal terdekat. Niat, niat yang tulus, paling mudah dijaga ketika sarana untuk mewujudkannya tersedia dekat dalam jangkauan.

Renungan Penutup: Niat Melampaui Papan Skor

Ketika peluit akhir berbunyi pada 19 Juli, satu negara mengangkat trofi dan yang lainnya pulang. Rekor tercipta lalu dipecahkan lagi, karena dunia pada hakikatnya memang fana.

Namun sujud Yasin Ayari, puasa Lamine Yamal, Umrah Achraf Hakimi, tawakal Arda Güler, masjid yang dibangun oleh Ousmane Dembélé: semua itu tercatat dalam catatan yang berbeda, yang tidak ditutup ketika turnamen berakhir. Maka nikmatilah Piala Dunia. Kagumilah bakat yang Allah tebarkan di seluruh ciptaan-Nya. Bersoraklah, dan bersoraklah sepenuh hati. Dan biarkan para atlet mukmin ini mengingatkan Anda bahwa panggung apa pun yang diberikan kepada seseorang—stadion, kantor, rumah, atau masjid—yang abadi adalah niat di balik ikhtiar itu dan Dia tempat kita kembali.

Semoga Allah menganugerahkan keunggulan bagi umat kita di kedua alam. Amin.

Referensi & Sumber

Artikel terkait

Bismillah dan Permainan Indah: Negara-Negara Muslim dan Putra-Putra Umat di Piala Dunia 2026
Tahiru Nasuru··17 mnt baca

Bismillah dan Permainan Indah: Negara-Negara Muslim dan Putra-Putra Umat di Piala Dunia 2026

Sebanyak sebelas negara mayoritas Muslim mencetak rekor lolos ke Piala Dunia 2026 (AS/Kanada/Meksiko, 11 Juni–19 Juli): delapan negara Arab—Maroko, Aljazair, Mesir, Tunisia, Arab Saudi, Qatar, Irak, Yordania—ditambah Senegal, Iran, dan Uzbekistan. Türkiye berpeluang menambah satu wakil lagi dari Eropa, sementara Yordania dan Uzbekistan mencatat debut bersejarah.